Menguasai gaya dada tidak hanya tentang kekuatan otot, tetapi juga tentang seberapa baik fleksibilitas tubuh Anda. Kelenturan yang memadai adalah kunci untuk gerakan yang efisien dan meminimalkan risiko cedera. Pada Kamis, 7 Agustus 2025, dalam sebuah lokakarya khusus yang diselenggarakan oleh Ikatan Fisioterapi Olahraga Indonesia di Pusat Kebugaran Jaya Wijaya, Surabaya, dr. Amelia Putra, seorang spesialis kedokteran olahraga, menjelaskan, “Perenang dengan kelenturan yang baik mampu melakukan gerakan yang lebih luas, sehingga menghasilkan dorongan yang lebih maksimal dengan usaha yang sama.” Pernyataan ini didukung oleh temuan riset dari Lembaga Penelitian Olahraga Nasional (LPON) yang dipublikasikan pada bulan Juni 2025, yang menunjukkan korelasi positif antara rentang gerak sendi dan performa renang.
Fleksibilitas tubuh sangat memengaruhi gerakan lengan dan kaki dalam gaya dada. Untuk gerakan lengan, kelenturan bahu memungkinkan tarikan yang lebih panjang dan jangkauan yang lebih luas, sehingga perenang dapat “menarik” air lebih banyak. Tanpa kelenturan bahu yang memadai, gerakan akan terbatas, mengurangi efektivitas setiap kayuhan. Demikian pula, kelenturan pada sendi pinggul dan pergelangan kaki sangat penting untuk tendangan katak yang optimal. Tendangan yang fleksibel memungkinkan perenang untuk menekuk kaki lebih jauh ke belakang sebelum menendang, menciptakan area dorongan yang lebih besar. Pada pukul 15.00 WIB di hari lokakarya, dr. Amelia mempraktikkan beberapa latihan peregangan spesifik untuk perenang, yang mencakup peregangan bahu, punggung bagian bawah, dan pergelangan kaki.
Meningkatkan fleksibilitas tubuh bukan hanya tentang performa, tetapi juga tentang pencegahan cedera. Gerakan gaya dada yang berulang dan spesifik dapat menyebabkan ketegangan pada otot dan sendi tertentu, terutama jika rentang geraknya terbatas. Perenang yang memiliki kelenturan kurang rentan mengalami cedera seperti nyeri bahu, cedera lutut (sering disebut “lutut perenang”), atau ketegangan pada otot pangkal paha. Sebuah laporan insiden cedera atletik yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada Januari 2025 mencatat bahwa 35% cedera pada perenang amatir disebabkan oleh kurangnya pemanasan dan peregangan yang memadai.
Untuk mengembangkan fleksibilitas tubuh yang lebih baik, rutinitas peregangan yang teratur adalah suatu keharusan. Ini harus mencakup peregangan statis dan dinamis yang menargetkan kelompok otot utama yang digunakan dalam gaya dada, seperti bahu, punggung, pinggul, paha dalam, dan pergelangan kaki. Disarankan untuk melakukan peregangan selama 10-15 menit sebelum dan sesudah setiap sesi renang. Pada sebuah sesi pelatihan renang tim daerah yang dipimpin oleh Komandan Pelatih Resimen Militer Khusus Olahraga pada 12 Juli 2025 di kompleks fasilitas militer, setiap prajurit atlet diwajibkan menjalani sesi peregangan yang diawasi ketat. Menginvestasikan waktu pada kelenturan adalah investasi pada performa renang Anda secara keseluruhan, menjadikan fleksibilitas tubuh sebagai aspek yang tak terpisahkan dari penguasaan gaya dada.
