Melihat keindahan gaya renang kupu-kupu saat ini, mungkin sulit membayangkan bagaimana sejarah gaya renang yang memukau ini bermula. Gaya kupu-kupu, dengan gerakannya yang elegan namun bertenaga, merupakan hasil evolusi panjang dari teknik-teknik renang sebelumnya. Perkembangannya penuh dengan inovasi dan adaptasi dari para perenang serta pelatih.
Sejarah gaya renang kupu-kupu berawal dari gaya dada. Pada awalnya, perenang menggunakan tendangan gaya dada, namun mengayunkan kedua tangan ke depan secara bersamaan di atas air. Teknik ini ditemukan oleh Henry Myers pada tahun 1933 dan Adolph Kiefer pada tahun 1934, yang menyadari peningkatan kecepatan signifikan dengan gerakan lengan tersebut.
Pada era 1930-an dan 1940-an, banyak perenang gaya dada mulai mengadopsi gerakan lengan kupu-kupu ini. Namun, mereka masih menggunakan tendangan kaki gaya dada. Kombinasi ini dikenal sebagai butterfly stroke with breaststroke kick, atau sering disebut fly-breast. Ini adalah fase awal penting dalam sejarah gaya renang ini.
Titik balik dalam sejarah gaya renang kupu-kupu terjadi pada tahun 1935, ketika perenang Amerika, David Armbruster, mengembangkan tendangan lumba-lumba (dolphin kick). Tendangan ini melibatkan kedua kaki yang bergerak bersamaan dari pinggul, menyerupai ekor lumba-lumba. Ini memberikan dorongan yang jauh lebih kuat dan efisien.
Perenang lain, Jack Sieg, juga secara independen mengembangkan dolphin kick pada tahun 1938. Gabungan gerakan lengan kupu-kupu dengan tendangan lumba-lumba terbukti sangat cepat. Namun, karena dianggap terlalu berbeda, gaya ini awalnya tidak diakui sebagai gaya terpisah dan masih dikategorikan sebagai variasi gaya dada.
Baru pada tahun 1952, FINA (Federasi Renang Internasional) secara resmi mengakui gaya kupu-kupu sebagai gaya renang yang terpisah dari gaya dada. Ini menjadi momen penting dalam sejarah gaya renang kompetitif, memungkinkan perenang untuk fokus sepenuhnya pada pengembangan teknik kupu-kupu yang unik ini.
Sejak pengakuan resmi itu, teknik gaya kupu-kupu terus berkembang. Para pelatih dan perenang melakukan eksperimen untuk menyempurnakan undulation tubuh, timing napas, dan recovery lengan. Penelitian biomekanik renang juga memberikan wawasan baru untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi hambatan air.
